Eksternalisasi Risiko: Keamanan Negara dan Konsekuensinya bagi Aceh dalam Operasi Sovereign Borders

Isi Artikel Utama

Indira Faydzatun Nufus

Abstrak

Migrasi tidak teratur menjadi isu penting ketika kebijakan keamanan perbatasan negara tujuan turut memengaruhi kondisi migran di negara transit. Australia menerapkan Operation Sovereign Borders (OSB) sejak 2013 untuk memperketat control perbatasan dan men bgurangi kedatangan migran tidak teratur melalui jalur laut. Penelitian terdahulu cenderung membahas kebijakan ini, peran Indonesia sebagai negara transit, dan respons Masyarakat Aceh secara terpisah. Penelitian ini bertujuan menganalisis kondisi migran transit di Aceh dalam kaitannya dengan penerapan OSB melalui perspektif state security dan konsep risk externalization. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi Pustaka yang memanfaatkan dokumen kebijakan, laporan Lembaga internasional, dan artikel jurnal relevan dari periode 2013 hingga 2024. Data dari berbagai sumber tersebut dibandingkan dan dianalisis untuk melihat hubungan antara kebijakan OSB dan kondisi migran di Aceh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa OSB memperkuat control perbatasan Australia dan menurunkan kedatangan migran melalui jalur laut, dari 55 kapal yang membawa 3.116 migran sebelum kebijakan diterapkan menjadi nihil setelahnya. Namun, pembatasan akses ke Australia tidak menghilangkan persoalan migrasi di negara transit. Pada akhir 2023, sekitar 12.295 pengungsi dan pencari suaka masih terdaftar di Indonesia. Di Aceh, kondisi ini berkaitan dengan ketidakpastian status hukum berkepanjangan serta perubahan sikap masyarakat dari solidaritas menuju keresahan sosial. Temuan ini menunjukkan perlunya kerja sama regional dan pembagian tanggung jawab yang lebih adil.

Rincian Artikel

Cara Mengutip
Faydzatun Nufus, I. (2026). Eksternalisasi Risiko: Keamanan Negara dan Konsekuensinya bagi Aceh dalam Operasi Sovereign Borders. Sociale : Journal of Social and Political Sciences, 2(2), 343–359. https://doi.org/10.69836/sociale.v2i2.915
Bagian
Articles

Referensi

Aisha, R. M., Rachmat, A. N., & Nourma, N. (2025). Sama Dengan Nauru Terkait Isu Penanggulangan Imigran Ilegal Tahun 2022-2024. Global Insight Journal, 02(02), 1–15. https://doi.org/https://doi.org/10.36859/gij.v2i2.3331

ANAO. (2017). Offshore Processing Centres in Nauru and Papua New Guinea: Contract Management of Garrison Support and Welfare Services. Australian National Audit Office (ANAO). https://www.anao.gov.au/work/performance-audit/offshore-processing-centres-nauru-and-papua-new-guinea-contract-management

Australia, R. C. of. (2019). People who come by boat. Refugee Council of Australia. https://www.refugeecouncil.org.au/boat-arrivals/

Australia, R. C. of. (2026). Offshore processing statistics. Refugee Council of Australia. https://www.refugeecouncil.org.au/operation-sovereign-borders-offshore-detention-statistics/2/

Buzan, B. (1983). People,States, and FearThe National Securiry Problem in international Relations. In Brighton: Wheatsheaf Books (pp. 41–63). Wheatsheaf Books.

Dewansyah, B. (2025). From Australian Influence to Rohingya Refugees: A Systematic Literature Review of Asylum Seekers and Refugees in Indonesia. Indonesian Journal of Socio-Legal Studies, 4(2), 6–20. https://doi.org/10.54828/ijsls.2025v4n2.2

Gleeson, M., & Yacoub, N. (2024). ‘Offshore processing’ in Australia. Externalizing Asylum. https://externalizingasylum.info/offshore-processing-in-australia/

Hudan, R. H. (2019). Kontradiksi Operation Sovereign Borders Australia Terhadap Peratifisian Konvensi Pengungsi Tahun 1951. Jurnal Hubungan Internasional Global, 10(2), 14–29.

Jumadi, J. (2025). Indonesia and the rohingya crisis: An analysis of the role of transit countries in refugee protection. Ex Aequo Et Bono Journal Of Law, 3(1), 65–78. https://doi.org/10.61511/eaebjol.v3i1.2025.2044

Karim, Z. P., Zakia, R., Hukum, F., Mada, U. G., Budaya, F. I., & Mada, U. G. (2025). Menciptakan Musuh Imajiner : Penolakan Pengungsi Rohingya di Aceh Creating Imaginary Enemies : The Rejection of Rohingya Refugee in Aceh. JURNAL HAM, 16(2), 77–94. https://doi.org/https://doi.org/10.30641/ham.2024.16.77-94

Lau, B. (2021a). A Transit Country No More. May, 1–10. https://mixedmigration.org/wp-content/uploads/2021/05/170_Indonesia_Transit_Country_No_More_Summary_Report.pdf

Lau, B. (2021b). A Transit Country No More (Issue May). https://mixedmigration.org/wp-content/uploads/2021/05/170_Indonesia_Transit_Country_No_More_Summary_Report.pdf

Leslie, T., & Corcoran, M. (2014). Operation Sovereign Borders - the first six months. ABC News. https://www.abc.net.au/news/2014-03-26/operation-sovereign-borders-the-first-6-months/5734458?

Listriani, S., Rosmawati, & Kadir, M. Y. A. (2020). Toward a New Legal Framework for Settling Rohingya’s Refugee Crisis in Indonesia: A Lesson Learned from Aceh Province. Education and Humanities Research, 413(April 2018), 277–285. https://doi.org/https://doi.org/10.2991/assehr.k.200306.227

Missbach, A. (2017). Facets of Hospitality: Rohingya Refugees’ Temporary Stay in Aceh. Indonesia, 104. https://doi.org/https://doi.org/10.1353/ind.2017.0010

Nawar, M., Muazzinah, M., & Marzaniar, P. (2025). Analisis Kebijakan Penanganan Pengungsi Rohingya di Provinsi Aceh. Jurnal Administrasi Politik Dan Sosial, 6(2), 181–199. https://doi.org/10.46730/japs.v6i2.261

Purwaningsih. (2019). SALINAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA tentang Hubungan Luar Negeri, perlu menefapkan Peraturan Presiden tentang. 42.

Pym, J. E. (2018). Operation Sovereign Borders “blocked 33 boats in five years.” SBSNews. https://www.sbs.com.au/news/article/operation-sovereign-borders-blocked-33-boats-in-five-years/3jm4g00gp

Rafiki, A. (2017). Alasan Indonesia-Australia Bekerjasama Dalam Bali Process Untuk Menanggulangi Irregular Migration. EJournal Ilmu Hubungan Internasional, 2(2), 597–612.

Razak, F. R. (2019). Kebijakan Unilateral Penanganan Imigran Ilegal Australia Pasca Pemilihan Umum Australia Tahun 2013. Global: Jurnal Politik Internasional, 20(2), 137–155. https://doi.org/10.7454/global.v20i2.332

Saragih, H. M., & Pramita, H. A. T. (2020). Implikasi Kebijakan Australia Operation Sovereign Borders (OSB) Terhadap Kerjasama Pertahanan-Keamanan Indonesia dan Australia (2013-2018). Jurnal Ilmiah Indonesia, 5, 1121–1137. https://doi.org/https://doi.org/10.36418/syntax-literate.v5i10.1656

Sukma, N. A. S., Nurlukman, A. D., Amiludin, & Ahmad. (2021). Bantuan Pemerintah Indonesia Dalam Penanganan Pengungsi Internasional Dari Negara Konflik. Masalah-Masalah Hukum, 50(2), 184–195. https://doi.org/10.14710/mmh.50.2.2021.184-195

UNHCR. (2022). Indonesia Fact Sheet - June 2022. June, 1–2. www.unhcr.org2

UNHCR. (2023a). As of end 2023, there are some 12,295 refugees and asylum-seekers registered with UNHCR in Indonesia. UNHCR Indonesia. https://www.unhcr.org/id/en/who-we-are/figures-glance

UNHCR. (2023b). Global Trends: Forced Displacement in 2022.

UNHCR. (2024). UNHCR Indonesia Fact Sheet, Desember 2024. December, 1–6.

Waltz, S. M. (1991). The Renaissance of Security Studies. International Studies Quarterly, 35(2), 211–239.